Harga Lada Rp25 Ribu, Petani Pertanyakan Peran Pemerintah

76

wawainews.ID, Lamtim – Harga jual lada hitam di Kabupaten Lampung Timur, sampai saat ini belum juga stabil. Bahkan dari tahun ke tahun terus anjlok.

Padahal Februari 2017 silam,  harga lada berada  di kisaran Rp.100.000 ribu hingga Rp.120.000 per kilogram. Namun pasca anjlok sampai saat ini harga terus merosot dikisaran  Rp25 ribu/Kilogram (KG).

Darwis (34) petani lada asal Desa Jabung, mengaku cemas lantaran harga lada tak kunjung membaik. Tak hanya berimbas pada  minim nya pendapatan dan kebutuhan sehari hari,  namun juga kelangsungan pendidikan anaknya.

“Kalau harga lada begini terus pak, jangankan untuk bayar SPP sekolah anak, untuk makan sehari-hari juga kami mulai kebingungan. Dulunya kalau jual satu karung saja bisa untuk makan lebih dari satu bulan, sekarang boro-boro,” ungkapnya kepada awak media, Sabtu (24/8/2019).

Saat ini di Lampung Timur tengah memasuki panen Lada. Meski cuaca mendukung dalam proses pengeringan lada. Tetapi harga tidak bersahabat, sementara biaya perawatan tinggi.

Budiman (36) petani lada di desa Toba, mengakui, beberapa tahun terakhir ini harga lada terus mengalami penurunan. Padahal, 2019 ini banyak petani mengharapkan harga lada dapat lebih baik dari 2018 lalu.

“Ternyata sama saja, Hanya sekitar Rp 25 ribu saja per kilogram,” ungkap Budiman Jum’at 23/08/2019.

Mengenai pemasaran, diakuinya cukup sulit lantaran belum ada yang menampung hasil panen mereka, Petani hanya menjual melalui tengkulak yang datang langsung, Namun, para tengkulak itu mematok harga rendah.

“Harga yang ditetapkan tengkulak, sangat rendah, Bahkan kalau dihitung-hitung, kami malah rugi menjual hasil panen, Tapi, mau disimpan juga tak mungkin, Karena kami memerlukan uang untuk belanja,” ujarnya.

Budiman mengaku tak habis pikir dengan harga lada yang selalu merosot, Menurut dia, dengan harga tersebut, tidak memberikan keuntungan kepada petani, Akibatnya, dia sendiri tidak mau menambah luas areal perkebunan, lantaran tidak sebanding dengan biaya perawatan yang dikeluarkan, “Terus terang saja, ongkos perawatan kebun sulit untuk kembali,” jelasnya.

Diketahui Pemerintah Provinsi Lamphng terus menggalakkan soal pertanian. Tapi ketika harga anjlok begini peran Pemerintah di mana?

“Pemerintah Provinsi terus bersosialisasi untuk mempertahankan Pertanian Lada, untuk mengembalikan kejayaan Lampung sebagai penghasil lada terbesar dulunya. Tapi jika harga anjlok pemerintah diam,”ujar Salman petani asal desa Gunung Sugih Besar.

Untuk itu dia mengaku sudah lama beralih, dan menebang semua pohin lada dengan mengganti tanaman jagung, atau singkong karena lebih menjanjika  ketimbang lada.

“Harusnya pemerintah dapat menjaga kestabilan harga lada, jika ingin budidaya kembali digalakkan di kalangan petani di Lamtim,”pungkasnya.(Kandar)