Aroma Judi, Pilkades Serentak di Lamtim Mulai Terasa

529
Angin kenceng melanda desa Gunung Sugih Besar, Senin (18/11/2019) sore. Hingga membuat tenda dan baleho sosialisasi peserta Pilkades di desa setempat roboh oleh angin (foto. Wa)

LAMTIM – Menjelang H-1 Pilkades serentak di Lampung Timur, aroma dugaan perjudian dalam pesta demokerasi dilevel paling bawah tersebut mulai terasa. Mereka menggunakan sistem bandar atau dikenal istilah banyun dengan sistem komisi mencapai 10 persen.

Saat ini Pilkades serentak di Lamtim memasuki masa tenang menuju hari pencoblosan 20 November 2019 besok. Gonjang-ganjing taruhan Pilkades mulai santer dengan besaran tertentu. Lalu bisakah hal terebut diungkap.

Tentu sulit diungkap, dan Polisi harus bekerja keras agar hal tersebut tidak menciderai proses demokerasi di level paling bawah itu. Pasalnya judi terselubung tersebut cukup rahasia bahkan antara mereka yang taruhan tidak saling kenal dan bandar tentu harus orang terpercaya.

“Judi dalam Pilkades di Lamtim sudah lazim dan pasti terjadi setiap Pilkades. Tapi sulit diungkap karena hanya modal kepercayaan. Ini sangat merusak sistem demokerasi Pilkades,”ungakap Abu Umar Calon Kades Desa Gunung Sugih Besar, Selasa (19/11/2019).

Abu Umar, mengatakan dampak perjudian (taruhan) tersebut berdampak pada pemilih. Karena memicu perpecahan antar calon. Dampak lainnya tentu memicu tindakan kriminalitas jika dibiarkan.

Menurutnya aparat kepolisian bisa, membentuk Satgas khusus memberantas aksi perjudian dengan sistem taruhan saat Pilkades Lamtim.  Harusnya hal tesebut bisa dicegah dan Polisi bisa menangkap bandar judi dalam Pilkades untuk memberikan efek jera dikemudian hari dalam ajang Pilkades.

“Polisi berjaga di berbagai titik, tapi aksi perjudian atau taruhan merajalela, yang diantisipasi terjadi tindak kriminalitas. Harusnya berantas juga soal judi karena itu jelas merusak jalannya Pilkades. Saya tegas tidak ingin pencalonan ini dirusak menjadi ajang perjudian orang mencari keuntungan semata,”tukas Umar.

Dikatakan berbagai serangan dalam bentuk uang sudah mulai terasa sejak empat hari menjelang pelaksanaan Pilkades melalui tim masing-masing dengan memberi uang dengan jumlah tertentu untuk mengarahkan memilih salah satu calon.”Tak ada lagi istilah serangan fajar tetapi serangan empat hari,”tandasnya.

Abu Umar, mengaku pencalonannya ingin masyarakat Gunung Sugih besar sadar bahwa Pilkades jangan di jadi kan ajang perjudian.

“Jika tidak ditindak efeknya sangat buruk untuk masyarakat itu sendiri, karena memberi contoh yang tidak baik untuk generasi muda selanjutnya,”ungkap dia.

Saat ini diketahui Polisi berjaga di berabagi lokasi yang anggap zona merah. Mereka tak segan memeriksa orang yang membawa senjata tajam dalam hal antisipasi terjadi hal yang tak bisa diinginkan seperti intimidasi dan lainnya.(red)