Sejarah Keratuan Pugung, Melinting dan Ratu Darah Putih

4,019 views
Batu Kelamin, situs magelitik di areal Taman Purbakala Pugung Raharjo, Kabupaten Lampung Timur

wawainews.id – Lampung Timur, bermula dari sebuah situs sejarah kini dikenal sebagai Taman Purbakala Pugung Raharjo yang keberadaannya telah ada sejak berabad abad silam. Bahkan banyak hikayat menyebutkan kawasan itu ada sejak sebelum Masehi. Berbagai prasasti dan temuan arkeolog pun menarik untuk diteliti, hingga mengkerucut pada dua zaman yakni Melinting Labuhan Maringgai Lampung Timur, dan Ratu Darah Putih di Kalianda, Lampung Selatan. Keduanya  bermuara dan tak terpisahkan dengan Keratuan Pugung. Namun setiap daerah memiliki kisahnya sendiri, tulisan ini hanya gambaran dan hasil merangkum dari berbagai sumber.

Menurut Buk, turunan Ratu Darah Putih, di Kampung Labuhan Maringgai, Marga Melinting dan cerita Dalem Ratu Melinting yang merupakan keturunan Ratu Melinting Generasi ke 16, serta keterangan para pemuka adat, Keratuan di Pugung, menurunkan keturunan Ratu Darah Putih, satu bernama Keratuan Darah Putih, bermukim di Kahuripan Kalianda Lampung Selatan, dan satu ada di Kampung Maringgai, Lampung Timur dengan sebutan Ratu Melinting.

Bila kita akan mengetahui asal muasal keturunan Ratu Melinting maka kita akan mengkaitkan Keratuan di Pugung, dan Kesultanan Banten, Bagaimanakah keterkaitan itu, dimanakah tempatnya, kapan waktunya, siapakah tokohnya dan pada peristiwa apakah itu?

KeratuanDipugung
Keterangan Ratu Pugung dan dimana tempat Pugung menurut buk turunan Ratu Darah Putih yang ada di Kampung Maringgai, Marga Melinting berbunyi Sbb; “Ini asal Ratu di Pugung namanya Ratu Galuh kampungnya suku apus, waktu Ratu Empat bebagi tanah di Sekala Brak dia pulang maka dia laju pindah di Pugung ialah Nama Ratu di  Pugung.  Tempat pugung itu diantara Gunung Sugih  Besar dan Bujung.Tempat Pugung berdasarkan keterangan pemuka adat setempat adalah yang sekarang Taman Purbakala Pugung Raharajo, desa Pugung Raharjo yang letaknya diapit Desa Gunung Sugih Besar dan desa Bojong Kecamatan Sekampung Udik Lampung Timur, berarti dua pendapat terdapat kesamaan.Kata Pugung Raharjo, mempunyai dua suku kata yaitu Pugung adalah nama sudah ada terlebih dahulu yang menurut bahasa daerah setempat menunjukkan tempat yang tinggi dan Raharjo adalah yang ditambahkan setelah datangnya para Transmigran di daerah tersebut, Raharjo artinya, ‘Subur’.(Endjat.DJ,1985:12).

Begitu banyak benda-benda peninggalan yang ada di lokasi taman purbakala kita dapat melihat peninggalan yang berasal dari tradisi megalitik (zaman prasejarah), klasik (Hindu/Budha) dan bekembangnya agama islam dibawah ini akan di tampilakan beberapa saja yang mewakili masing- masing periode zamannya.

Menurut Robert Von Heine Geldren, pembawa kebudayaan megalitik ke Indonesia adalah bangsa ras Austronesia kira-kira pada tahun 2500-1500 SM. Melihat benda–benda yang ditemukan di lokasi tersebut yang sudah di teliti oleh team gabungan antara Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) dengan Pennsylvania Museum University dari USA, dari keterangan para ahli  pugung sudah ditempati masusia sejak 2500 sebelum masehi. Periode zaman prasejarah, adapun tradisi megalitik ciri cirinya dapat dilihat dengan dengan adanya alat alat kehidupan yang terbuat dari batu – batu besar seperti menhir (batu tegak)  sebagai tanda peringatan tempat pemujaan, dolmen (meja batu) sebagi tempat musyawaah,  kubur batu sebagi tempat penguburan lokasi benda-benda trdapat dalam satu komplek dan masyarakat setempat menyebunya  lokasi batu mayat.

(gambar 2) peninggalan sejarah

Adapula punden (gambar 3) yaitu gundu

punden Berundak

kan tanah yang ber unduk-unduk (teras) berbentuk bujur asangkar ber undak dua maupun tiga fungsi sebagai pemujaan roh-roh nenek moyang.

Ada pula benteng (gambar 4)

tanah yang bentuknya gundukan tanah tinggi 2- 3.5 m dan pada bagian luarnya terdapat parit yang dalamnya 3-5 meter beteng ini adalah tampat perlindungan dari musuh atau binatang buas.

Periode zaman klasik ditandai ditemukan patung yang terbuat dari batu adesit (arca batu) yang didiuga keras oleh par ahli adalah patung Budhisatwa ( gambar 5) yang dinamakan oleh penduduk seempat adalah “Putri Badriah’ berarti kita mendapat gambaran bahwa agama budha pernah diunut oleh masyarakat pugung pada waktu itu, adanya keramik asing dari cina yang berasal dai dinasti Sung berasal dari abad X.

gambar 5

 

Periode arkeologi Islam dapat dlihat dari adanya penemuan pecahan keramik asing (gambar 6) yang tersipan di rumah impormasi pugung raharjo ,dari hasil penelitian tampaknya seluruhnya beasal dari cina yang berasal daridinasti Ming dari abat XVI dan XVII.

gambar 6

Adapula prasti Dalung (gambar 7) yang terbuat dari tembaga yang beraksara Pegon (aksara  Arab) , berbahasa Banten berangka tahun 1100H. dukeluarkan oleh Kesultanan Banten isinya perjanjian perdagangan dan pelayaran di wilayah Lampung.

gambar 7 Benteng lokasi Serikulo Desa Negra Saka

Dengan adanya pecahan-pecahan keramik asing khususnya keramik cina memainkan peranan penting dalam penelitian akeologi karena keramik cina sudah jelas kronoloisnya. Keramik Cina dapat diindentitifikasikan kembali kepada diansi-dinasti Cina yang pernah memerintah.

Kronologi ini sangat penting karena dapat memberikan data pertanggalan kepada situs arkrologi dan dengan demikian keramik asing berfungsi sebagai penentu pertanggalan relative. Di situs Pugung raharjo keramik tertua berasal dari abad ke 10  dan yang termuda abad ke 17 M.

Dari keterangan para peneliti Pugung memberikan gambaran kepada kita, bahwa situs Pugung Raharjo setidak ditinggalkan oleh penduduknya, atau penghuninya pada akhir abad ke 17 atau awal abad ke 18. Namun mengapa sebab situs situs di tinggalkan pada abad ini belum terugkap karena data-datanya masih relative sedikit. Kemudian pertanyaan kemana pindahnya penduduk pugung sampai saat ini belum diketahui, tapi gambaran dapat di sebutkan oleh para ahli Pugung telah dihuni oleh masyrakat yang memiliki aturan-aturan yang dianut serta ditaati oleh keseluruhan penduduknya, hal ini berlangsung sejak berabad-  abad  permulaan masehi.

gambar8  Lokasi Serikulo Desa Negara Saka dipiggir Sungai Sekampung

Dari pemuka-pemuka adat setempat mengatakan desa Pugung Raharjo tadinya juga merupakan suatu kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang bernama Ratu Di Pugung menurut keterangan diperkirakan keratuan Pugung bediri pada zaman klasik (Hindu/Budha). Kapan mulai Keratuan Pugung dan berakhirnya ratu di pugung memerintah  sampai saat ini  belum di  temukan data-data  yang cukup.

Keterangan mengenai keturunan Ratu Pugung menurut buk turunan Ratu Darah Putih yang ada  di Kampung Meringgai Marga Melinting berbunyi sbb: Ratu  Pugung ada putra  nama Minak Sang Bare Masakti,  Minak Sang  Bare  Masakti materaken Minak Riyo Puhawang, Minak Riyo Puhawang Materaken Temenggung Kalelatun – Temenggung Kalelatun puteranya dua, satu Dapati Lebuh Kaca dua Minak Riyo Jalan yang muda. Maka Temenggung Kalelatun semua anak bini dan Kaum dan rakyatnya dibawanya pindah dari Pugung pindah  di Serikulo  yang dekat Kampong Negara Saka sekarang “

gambar 9

Pada masa Temengung Kalelatun terjadi perpindahan dari Pugung ke Serikulo yaitu Negara Saka, Kecamatan Jabung Sekarang. Berdasarkan keterangan Raden Hasan Jaya Ningrat (2012), bahwa serikulo terletak di desa Negara Saka di lokasi itu terdapat Benteng (gambar 9) bentuknya sama seperti yang ada di Pugung yang disebut orang zaman dahulu beteng Mandawana dan letaknya di pinggir Sungai Sekampung (gambar 10).

gambar 10 Makam Minak Kejala Bidin di Dusun Keramat Desa Asahan

Saat ini, tanah yang disebut Serikulo, pemiliknya adalah Bapak Kriyo Abu Husin, menyatakan bahwa berdasarkan riwayat orang tuannya tanah itu bernama Serikulo, asal tanah dari warisan orang tuannya Hi. Hasan (alm) mantan kepala Desa Negara Saka, pada lokasi tersebut saat kami kunjungi banyak ditermukan pecahan Keramik yang diduga Keramik Cina (Gambar 11) dan keramik itu bentuknya sama seperti keramik yang ada di pugung

gambar 10 Way Sekampung Bandar Asahan di Desa Asahan

Diperkirakan pada masa itu sekitar awal abad ke 16 masyarakat Keratuan Pugung masih  menganut agama  Hindu  dan Budha disamping kepercayaanAnimisme.

  1. Kesultanan Banten 

Dalam keterangan dari buk turunan Ratu darah Putih kampong Meringgai Marga Meliniting mengenai keratuan di pugung maupun tentang keratuan darah putih dan melinitng tidak atau belum didapat kurun waktu yang tepat seperti tahun berapa mulai terbentuknya keratuan dan tahun berapa adanya kejadian – kejadian penting, karena memang belum banyak yang meneliti dan data sangat terbatas yang terkait dengan hal tersebut

Untuk itu kita akan melihat keterangan mengenai Kesultanan Banten yang banyak ditulis dan memiliki data yang cukup lengkap yang berkaitan dengan penyebaran agama Islam. Untuk penyebaran  agama isalam di lampung  dilakuakan melalui proses  hubungan pertalian darah yang ditandai dengan peristiwa perkawinan penguasa Banten saat itu dengan putri dari Keratuan Pugung dan sampai terbentuknya keratuan Melinting sehingga kita  akan mengetahui  periodesasi sejarahnya.

Seperti yang di jelaskan dalam beberapa tulisan kita dapat mengeahui mengenai “Kesultanan Banten” awal berdirinya menurut penjelasan Halwany Michrob,(1993) Semakin besar dan  majunya daerah Banten maka pada tahun 1552 Banten yang tadinya hanya sebuah Kadipten di rubah menjadi Negara bagian Demak dengan Hasanuddin sebagai rajanya degan gelar Maulana Hasanuddin Panembahan Surosowan. Maulana Hasanuddin, masa menjadi Sultan banten 1552-1570.

Dalam Riwayat Kesultanan Banten Th. Hafidz Rafiuddin, S.Ag. (2000), mengemukakan hal yang hampir sama, antara lain sebagai berikut; Pada kenyataannya sebelum Sultan Maulana Hasanuddin ditugaskan oleh Ayahandanya Syarif Hidayatullah untuk mengembangkan Islam di Banten, pada waktu itu masyarakat Banten yang dipimpin oleh Raja Saka Domas (Pucuk Umun) dibantu oleh Maha patihnya Ajar jong dan Ajar jo sebagal pemeluk Animisme. Maulana Hasanuddin. Dilahirkan pada tahun 1479 di Cirebon dan wafat pada tahun 1570 di Banten. Pada 1525 Maulana Hasanuddin mengIslamkan Banten Utara secara berangsur-angsur, yang tidak masuk Islam mengungsi ke Parahiyangan (Cibeo/Kanekes Banten) (Rafiuddin, 2000: 1- 9).

Dalam Sajarah Banten Hoesein Djajadiningrat (1913), tentang “orang tua” Hasanuddin, dikisahkan sebagai berikut: Diceritakan sekarang tentang seorang yang dikeramatkan, yang bapaknya berasal dari Yamani, dan Ibu dari Bani Israli. Dari Mandarsah ia datang di Jawa, yaitu Pakungwati, untuk meng-Islamkan daerah ini. Ia mempunyai dua orang anak, seorang Perempuan (Anak pertama) dan laki-laki bernama Maulana Hasanuddin. dengan anaknya yang laki laki ia berangkat ke arah barat, tiba di Banteng Girang, lalu terus ke Selatan, ke Gunung Pulosari (Djajadinigrat 1983.33)

Tentang “seorang yang keramat, yang bapaknya berasal dari Yamani dan ibunya dari Banisrail, kemudian dijelaskan, bahwa “seorang yang keramat” itu, dari Mandarsah ia datang di Jawa, yaitu Pakungwati, untuk meng-Islamkan daerah ini. Secara tersamar, penulis Babad Banten yang dibahas Hoesein Djajadiningrat, nampak ingin meriwayatkan orang tua Hasanuddin. Akan tetapi, pengetahuan penulis Babad Banten tentang silsilah Syarif Hidayat, sangat terbatas.

Sehingga sebutan “orang yang keramat” itulah yang muncul, untuk menyatakan bahwa orang tua Hasanuddin adalah “tokoh penting”. Dalam Pakem Banten Tubagus Haji Achmad (1935), legalitas Hasanuddul sebagai putera Syarif Hidayat, dikemukakan antara lain sebagai berikut:

Maka terseboetlah pada masa dahoeloe, koerang lebih hidjrah Nabi 887, tahoen Belanda k.l. 1472, Maulana Machdoem Sarif Hidajatoellah, Kangdjeng Soenan Goenoeng Djati di Tjirebon, mengoetoes anakda Baginda Pangeran Hasanoeddin, soepaja datang ke negeri Banten, pertama disoeroeh menjebarkan agama Islam, kedoea mena’loekkan radja-radja di Banten, karena telah diketahoeinja bahwa Pangeran Hasanoeddin lajak dan pantas, akan bisa mentjapai maksoed hingga mendjadi Radja di Banten kelak sampai ketoeroen-toeroenannja (Achmad,1953: 24). 

Pakem Banten, menurut penyusunnya Tubagus Haji Achmad, menggunakan sumber “Parimbon Banten, yang hampir malah sudah musnah, karena dilalaikan oleh yang dipusakainya”. Berdasarkan kutipan tersebut di atas, para penulis Parimbon Banten, cukup menjelaskan posisi Hasanuddin sebagai putera Syarif Hidayat. Hanya saja, pada kalimat selanjutnya, terjadi “plot less” (simpang siur) siapa yang mempunyai peranan penting, dalam proses meng-Islam-kan Banten. Sebagaimana umumnya penulis Babad Banten, “raja-raja Banten non Islam” selalu diperankan sebagai antagonis (peran lawan), untuk menonjolkan semangat penyebaran Islam di kemudian hari. Sedangkan, kekerabatan Sang Surasowan dengan Syarif Hidayat, sangat gelap (peteng), tidak terjangkau oleh pengetahuan para penulis babad.

Berdasarkan kaol Cibeber, yang berhasil dirangkum dan didokumentasikan oleh Yayasan Ujung Wahanten (1996), mengemukakan hal yang sama, antara lain;

Pada abad 15, disaat Kg. Maulana Hasanudin pertama kali masuk ke Negri Banten, dimana pada waktu itu rakyat Negri Banten masih menganut agama kepercayaan Animisme dan masih di pimpin oleh Kerajaan Pajajaran dan Pakuan, Kg. Maulana Hasanudin berhasil menaklukan raja-raja Pajajaran dan Pakuan berserta rakyat dan pengikutnya, maka Kg. Maulana Hasanudin di tantang mengadu kekuatan kesaktian oleh salah seorang sesepuh di Negri Banten yang bernama Pucuk Umun, di Tegal Papak Waringin Kurung Banten. Kg. Maulana Hasanudin adalah putra pertama Seh Syarif Hidayatullah seorang ahli yang menurunkan raja-raja di Cirebon, Banten dan Demak. Sang Ayah tinggal di Gunung Jati Cirebon yang kemudian dikenal sebagai Sunan Gunung Jati.

Kemelut berkepanjangan yang melanda pemerintahan ini menyebabkan kerajaan Demak menjadi lemah dalam segala bidang kehidupan. Keadaan ini mengakibatkan Demak kehilangan kewibawaannya di mata dunia internasional, sedang dalam waktu yang bersamaan, Banten, mengalami kemajuan dalam segala segi. Situasi demikianlah yang mendorong Hasanuddin mengambil keputusan untuk melepaskan Banten dari pengawasan Demak. Banten menjadi kerajaan yang berdiri sendiri, dengan Maulana Hasanuddin sebagai raja pertamanya. Sedang wilayah kekuasaannya pada waktu itu meliputi Banten, Jayakarta sampai Kerawang, Lampung, Indrapura sampai Solebar (Djajadiningrat, 1983: 38).

Dengan berkembang dan meluasnya penyebaran agama Islam dipesisir utara Jawa Barat  terutama yang disebrakan oleh Kesultanan Banten, agama Islam juga mulai mnyebar ke daerah Lampung bagian Timur khususnya daerah Keratuan Pugung.

  1. Timbulnya Keratuan Darah Putih

Menyebarnya agama Islam di daerah Keratuan Pugung melalui proses hubungan pertalian darah, terjadinya perkawianan antara penguasa Banten pada waktu itu ialah  Sultan  Maulana Hasanuddin dengan Puteri dari Keratauan Dipugung yang bernama Puteri Sinar Alam.dari perkawianan ini lahirlah ”Minak Kejala Bidin” yang merupakan cikal bakal asal mula keturunan Ratu Darah Putih yang kemudian terkenal dengan sebutan “Ratu Melinting” yang bermukim di Meringgai (Dalem Ratu Melinting,1988:15)

Mengenai terjadi perkawinan antara Sultan Maulana Hasanuddin dengan puteri dari Keratuan Pugung Menurut buk Turunan Ratu Darah Putih yang ada di Kampung Meringgai Marga Melinting, di terangankan sebagai berikut ;

Depati Lebuh Kaca ada putera dua satu laki satu perempuan yang laki –laki Patibi Lanagiri yang perempuan namanya Puteri Kandang Rarang, Minak Riyo Jalan puteranya satu  Puteri Sinar Alam “’

Lama-lama Sultan Maulana Khasannudin Banten dia turun mandi di air diliyatnya ada kilat puteri bagus dilampung . lama dua tiga hari dia membawa pucalang berangkat ke Lampung sehingga dia sampai di Lampung terus minta kawin dikawinkan sama Puteri Kandang Rarang. kira tujuh hari lamanya kawin Sultan Maulana Khasannuddin Turun mandi dipandannya masih ada kilat puteri yang bagus lainnya ……

maka Di keluarkan lagi Puteri Sinar Alam saudara Puteri Kandang Rarang yang muda Maka maka di kawinkan lagi sama Sultan Sudah kira tujuh hari lamanya datang Ratu di Pugung mengomong sama Sultan bahwa menyerahakan keratuan dan semua kekuasaanya dan keawajibanya hal kecil dan besarnya semua diserahkan sama Sultan sebab dia tidak boleh pergi lagi, itu Keratuan itulah asal keturunan di Lampung. Ratu Dipugung pulang di pugung laju ilang musnah Kampungnya, lalu silam abislah pasal itu.  Ialah berdiri Ratu Darah Putih dalam cerita dari Tokoh adat Melinting dan buk turunan ratu darah putih yang ada diatas bahwa Sultan Maulana Hasanuddin Banten kawin dengan puteri pugung yaitu puteri sinar alam maka setalah itu silamlah ratu pugung maka munculah ratu darah Putih, selanjutnya Sultan maulana Hasannuddin kembali ke Banten, selang beberapa bulan maka isteri-isteri yang dilampung melahirkan anak, seperti yang di jelaskan dan buk turunan Ratu Darah Putih yang ada di kampong Maringgai Marga Melinting :

Lama- lama isterinya Puteri Kandang Rarang beranak laki-laki nama Minak Kejala Ratu Darah Putih, tidak berapa lama istrinya nama Puteri Sinar Alam beranak lagi laki laki namanya Minak Kejala Bidin.

Setelah dewasa maka Minak Kejala Ratu dan Minak Kejala Bidin pergi ke Banten menemui orang tuanya Maulana Hasannuddin, namun mereka tidak datang besama-sama ke Banten,  Minak Kejala Bidin lebih dulu sampai ke Banten,setelah akan pulang ,Minak Kejala Bidin diberi pusaka oleh orangtuanya dan keris pusaka itu masih tersimpan di Meringgai (gambar ) dalam  buk turunan Ratu Darah Putih yang ada di kampong Maringgai Marga Melinting mengenai pusaka   tersebut  terdapat penjelasan : Kamu boleh pulang ke Lampung melaikan ini kamu punya keris tiga biji buat pusaka Kamu 1. Nama Kelambi Sani 2. Nama atu Lawet 3. Nama Cambai Secandik dan di kasih Satu peti tapi ini peti jangan kamu buka di jalan jika kalau belam sampai di Lampung Ini peti berisi balo-balo.

Setelah itu Minak kejala Darah Putih menyusul ke Banten menemui orangtuanya ketika akan pulang maka diberipula pusaka oleh orang tuanya kancing lawang kuri (keris satubu pitu) dan satu buah peti yanbg beisi bala-bala dan berpesan kepada Minak Kejala darah putih, dalam buk turunan Ratu Darah Putih yang ada di kampong Maringgai Marga Melinting Sultan Maulana Hasanuddin  berpesan kepada Minak Kejala Ratu : Kita pesan sama kamu jangan campur sama saudaramu yang tua nama Minak Kejala Bidin  Melainkan kamu pidah ke Kalianda.

  1. Timbulnya Keratuan Melinting

Minak Kejala Ratu Darah Putih setibanya di lampung  tidak langsung menetap di  Kalianda  tetapi bersama Minak Kejala Bidin membuat kampong yang baru yaitu Pakuan Ratu Asahan pindah dari Serikulo Perkembangan Selanjutnya Minak Kejala Ratu Darah Putih pindah ke Kalianda membentuk keratuan tetap dengan nama Keratuan Darah Putih dan berbagi tanah kekuasaaan dengan Minak Kejala Bidin membentuk Keratuan dengan nama Keratuan Meliniting .
Kata Melinting berasal dari kata meninting yang berarti membawa .Timbulnya Melinting pada masa penyebaran agama Islam. Jadi arti Melinting adalah membawa misi islam . (Hasanuddin Dalem Ratu Melinting , 1989).

Pada masa anak Minak Kejala Bidin yaitu Pengeran Panembahan Mas pindah ke Meringgai , meringgai yang dimaksud bukan Meringgai sekarang ini, tetapi dusun keramat (Meringgai Tua) desa Negeri Agung, Kecamatan Gunung Pelindung sekarang ini.

Hal ini kita mendapatkan makam Minak Kejala Bidin terdapat di Desa Asahan yaitu di dusun keramat di dekat kali Way Sekampung , sedangkan makam Pengeran Tutur Jimat dan Setenggul Ulung (anak mantu) terdapat di dusun Keramat, Desa Negeri Agung (Meringgai Tua). Minak Kejala Bidin dan Minak Kejala Ratu berbagi tanah kekuasaan , diterangakan dalam buk turunan Ratu Darah Putih yang ada di kampong Maringgai Marga Melinting mengenai hal tersebut.

Makam Pangeran tutur Jimat di dusun keramat Maringgai Tua

Itu orang dua bersaudara bebagi tanah kekauasaan tebing kali sekampung sebelah sini ke kuasaan Minak Kejala Bidin Ratu Melinting, sampai Muara Wako, menuju Kubang Raripi Palawan Dawak Siring Kibau sampai Tegineneng. Sebelah sana Kali Sekampung dari Tebing, sebelah sana sampai Belimbing dan Tanjung Cina Kekuasaan Minak Kejala Darah Putih Ratu Kalianda.

Maka  jaman itu dua orang bersaudara Minak kejala Ratu Darah Putih dan Pangeran Panembahan Mas Menetapkan Bandar Asahan yang jadi Bandar yaitu, nama Datuk Syah Bandar, yakni keturunan Pangeran Mangku Desa Sekarang di Asahan karena Ratu Kalianda mau menetap di Kalianda dan Ratu Melinting akan pindah di Maringgai untuk menetapkan Marga Melinting.

Makam Setanggul Ulung di Dusun Keramat Maringgai Tua, Negeri Agung

Diterangkan dalam buk turunan ratu darah putih yang ada di kampong Meringgai mengenai asal Penunggu Bandar Asahan dan Jati Rarangan yang ada di alang alang Melinting (Tegal Melinting), di Desa Asahan Kecamatan Jabung; Lama-lama kira-kira dua tiga tahun orang Lampung jaman itu di perangi oleh Bajak Laut dari Timur, jadi Takut dua orang bersaudara berkirim surat sama orang tuanya di Banten. Maka dikirim orang tuanya satu orang Jawa dari Cirebon nama Patunggu Batang, buat jaga Ratu Lampung Kuala Sekampaung, dan dikirim bibit Jati dua bibit Malaka tiga bibit Katang-katang, sempat burung putih kepala, itulah asal Jati Rarangan yang ada di Alang-alang Melinting. Itu penunggu Batang lama lama dia bernama Datuk Syah Bandar. Itulah asal keturunan Pangeran Mangku Desa di Pakuan Ratu Asahan.

Bandar Asahan ngebandari buai Pemuko dan buai putih karena buai pemuko orang datang dari pubian ulu. Waktu  jaman itu  Bandar asahan mufakat sama Ratu Melinting minta bagian tanah  di kasih ratu Melinting wates di sebelah barat berwates gunung urai turun kekubang babaring yang sampai di pelabuhan ratu udik terus pinggir kali sekampung itulah kekuasaan asahan bukan kuasa  di kuasakan Ratu Melinting.

Makam Keramat Minak Sengaji Anom, Labuhan Maringgai

Keratuan Darah Putih yang bermukim di Meringgai atau Keratuan Melinting pada saat terbenuknya pemerintahan marga oleh Belanda, menjadi Marga Melinitng pada saat ini wilayah adatnya adalah desa Meringgai, Tanjuang Aji, Tebing , Wana, Nibung, Pempen dan  Negeri Agung  Kabupaten Lampung Timur.

Asal dan turunan Ratu Melinting dalam buk turunan Ratu Darah Putih yang ada di kampong Maringgai Marga Melinting diterangkan sebagai berikut… Kanjeng Sanuhun Mulana Muhammad Mahdum Jati Materaken Maulana Khasanuddin Banten. Ini turunan yang di Lampung anak Sultan Maulana Khasanuddin sama isterinya nama Putri Sinar Alam, Materaken Minak Kejala Bidin.

Minak Kejala Bidin puteranya Pengeran Penambahan Mas putranya Pengeran Tutur Jimat puteranya dua 1. Pengeran Penambahan Mas 2. Raden Indah, jaman itu maringgai berperang sama palembang rupanya maringgai kesusahan datang setenggul ulung dari tanjung aji Bantu perang . Menang perang sama orang Palembang maka itu Setenggul Ulung di kawinkan  Pengeran Tutur Jimat sama anaknya Raden Indah itulah asal suku Banjar turunan Haji Umar Penyibang suku Banjar Tanjung Aji.

Pangeran Panembahan Mas Putranya Muhammad, jaman itu Sultan Banten membawa pucalangnya, ke Lampung menerangkan Lampung sekarang jangan siba dio Banten lagi, semua kekurangan adat sudah diizinkan semua sama Muhammad. Muhammad itu dinamakan Sultan Banten “Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama ” Putanya ada lima dua laki dan tiga perempuan yaitu, pertama atau tertua Minak Yuda Resmi, kedua Minak Sengaji Anum, (Ialah yang jadi keramat di dekat Sungai Meringgai), yang ketiga Ratu Ibu, keempat Ratu Pesarian dan kelima Minak Maju Lemawang, diambil Minak Putera Desa Orang Abung Turunan Kota Bumi.

Minak Yuda Resmi Puteranya Pangeran Ira Kesuma Puteranya Minak Kiemas Putranya Rada Dilampung putranya ada dua. Yang pertama Penayakan Dalam dan kedua Penayakan Jimat. Penayakan Dalam Puteranya Pangeran Putera Kesuma Puteranya Dalam Ratu Melinting. Pada masa ini dalam Ratu Melinting membuat kemufakatan dengan Guvermen (belanda) ada lima hal yang tidak boleh diubah;

  1. Bahasa Lampung
  2. Adat Lampung
  3. Surat Lampung
  4. Bagian Tanah Kekuasaan dan
  5. Agama Islam

Dalam Ratu Melinting Puteranya Pangeran Putera Kesuma Putranya,

  1. Muhammad Amin, Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama
  2. Raden Baginda.

Muhamad Amin Sultan RAtu Idil Muhammad Tihang Igama puteranya

  1. Ismail glr. Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama III, yang jadi Pesirah Marga Melinting.
  2. Dalem Sangung
  3. Mas Kemala Perempuan
  4. Mas manik Perempuan

Jadi Mas Kemala kawin sama Dulgani orang Jepara anaknya Pengeran Pataka Mega Jepara, maka Sultan Idil Muhammad yang tua sama Pengeran Pataka Mega mufakat bersaudara betul serta bersumpah maka Pengeran Pataka Mega minta tanah kekuasaan sama Sultan. Dikasih Sultan dari Tebing Lakukai Rantau Jaya Udik sampai Tanjung Selam yang diantara Mataram Baru dan Raja Basa Baru itulah asal tanah tapal watas……

Raden Baginda puteranya nama Lijah kawin sama Batin Raja Nursiwan asisten demang orang Pubian kampong Kurungan Nyawa. Ismail Sultan Ratu Idil Muhamad Tihang Igama III yang juga Menjadi Pesirah Marga Melinting puteranya Hasanuddin,BA. glr. Dalam Ratu Melinting, puterakan H. Rizal Ismail,SE,MM. glr. Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama IV.

Besluit (SK) Pesirah Maraga Melinting
Hasnnudin, BA, Dalem Ratu Melinting
Rizal Ismail, SE,MM, Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama IV

Rangkuman: 1. Periodesasi dan Tokoh:

Keratuan Melinting Mulai berdiri sejak abad ke 16, perkiraan masa tahun Pemerintahan Sultan Banten Pertama Sultan Maulana Hasanuddin Banten, (Masa menjadi Sultan Banten 1552-1570) yang mempunyai isteri dari Puteri Keratuan Pugung yang bernama Puteri Sinar Alam Melahirkan Minak Kejala Bidin.

  1. Peristiwa dan Tempat;

Bila kita melihat penjelasan masa itu adalah peristriwa penyebaran Agama Islam di Keratuan Pugung Lampung.

Foto dan sumber banyak diambil dari Dokumentasi Kesultanan Melinting..

menjadi catatan, Pugung kini, Menjelma sebagai salah satu objek wisata menarik di Lampung Timur, ia menyajikan keasrian jauh dari hiruk pikuk kemacetan. Ia berada jauh dari pemukiman, penasaran. Ayo ke Taman Purbakala.

Catatan Redaksi

Baca Juga : Hikayat Keratuan Pugung versi Keturunan Darah Putih

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here