Ruwah Balak, Warga Desa Gunung Sugih Besar Doakan Keselamatan untuk Lamtim

655 views
Suasana ruwah balak atau tolak bala salah satu tradisi budaya yang masih terjaga di desa gunung sugih besar sekampung udik lampung timur, Kamis (29/7/2021) = foto ist

BERBAGAI cara dilakukan masyarakat diberbagai daerah untuk menolak bala, ditengah pagebluk yang masih mengkhawatirkan diberbagai pelosok negeri. Kekhawatiran itu sepertinya mulai melanda warga desa, hingga mereka terus berupaya melawan dengan berbagai cara untuk tidak terserang virus yang tengah melanda salah satunya seperti di Desa Gunung Sugih Besar dengan menggelar ritual adat ‘ruwah balak’ semacam Tolak Bala

Situasi sekarang, dipandang mulai mengkhawatirkan karena mengundang ketakutan warga desa, hingga akhirnya sesepuh adat dan para tetua di Desa Gunung Sugih Besar, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, pada, Kamis (29/7/2021) menggelar ritual adat yang diistilahkan ‘Ruwah Balak’ (Tolak Bala) dilaksanakan di rumah adat (Sesat-ed) setempat.

Tradisi tolak bala yang disebut ruwah balak di desa itu masih terjaga sampai sekarang setiap kali suasana dianggap mengkhawatirkan oleh wabah penyakit tertentu, atau kejadian lainnya yang meresahkan akan keselamatan diri (Resing). Kali ini melalui ‘Ruwah Balak’ sesepuh dan tokoh agama di Desa Gunung Sugih Besar, mendoakan agar desanya tidak dimasuki Pagebluk.

Mereka juga mendoakan agar Wabah Virus Korona segera sirna dari Lampung Timur dan Indonesia khususnya. Ruwah Balak digelar ditengah virus korona yang masih belum membaik di wilayah Lampung Timur. Kondisi saat ini dianggap sedang tidak baik saja, hingga ritual ruwah balak dianggap harus dilaksanakan. Kebiasaan itu sudah biasa dilakukan secara turun temurun.

Ritual sebelum doa bersama, berkirim doa kepada para leluhur

Ruwah Balak, dimulai dengan pemotongan kambing berwarna hitam, kemudian pengolahan dan masaknya di lokasi itu oleh kalangan yang dianggap muda. Sedangkan sesepuh, tokoh adat (penyimbang) dan tetua di desa itu berkeliling untuk ziarah ke makam para leluhur yang di keramat kan di Desa Gunung Sugih Besar.

“Tadi para sesepuh, tokoh adat dan agam terbagi sebelum pelaksaan doa bersama digelar mereka berkeliling berziarah ke beberapa makam leluhur desa yang selama ini memang dikeramatkan dengan membawa kain putih untuk mengganti penutup makam,”kata panitia pelaksanaan ruwah balak.

Setelah ziarah keliling ke makam leluhur desa, kemudian kembali ke sesat adat untuk menggelar ritual doa bersama. Berbagai sesaji telah tersedia misalkan seperti jeruk purut yang telah diris, dan lainnya untuk di doakan bersama.

Kemudian warga yang hadir ikut berdoa dalam ritual tolak bala tersebut, meraka akan berebut. Pernak pernik seperti jeruk yang telah disiapkan (Pengeleb-ed) untuk di pakai mandi. Hal itu adalah bentuk tradisi dengan harapan bisa terlepas dari wabah yang tengah melanda, karena telah di doakan. Dilanjutkan dengan makan bersama dipenghujung acara.

Pelaksanaan Ruwah Balak itu sendiri terlaksana atas gotong-royong warga desa. Setiap warga sukarela menyumbangkan beras, uang dan lainnya untuk keperluan tradisi adat Ruwah Balak. Sumbangan diantarkan langsung ke rumah adat atau dikirim oleh warga. Kemudian sumbangan yang terkumpul digunakan untuk keperluan ritual tolak bala itu sendiri.

Biasanya doa bersama akan dipimpin langsung oleh penghulu desa, dengan khusuk semua ikut berdoa untuk kebaikan kampung dan Lampung Timur agar bisa kembali normal dan terhindar dari berbagai penyakit terutama virus korona yang saat ini masih belum berakhir.

Tradisi ruwah balak (tolak bala) di Desa Gunung Sugih Besar merupakan salah satu tradisi budaya yang masih terjaga, disamping tradisi budaya lainnya seperti aqiqah (Neghecah) Bumi dan doa selamat di awal tahun baru islam yang biasa digelar setiap tanggal 10 Muharam dalam kalender islam.

Tapi diantara ketiganya yang rutin digelar adalah tradisi doa keselamatan di awal tahun baru islam. Ruwah Balak, dan Aqiqah (Neghecah) Bumi dilaksanakan pada waktu tertentu sesuai dengan adat istiadat setempat yang ditentukan oleh penyimbang adat.

Catatan Budaya Redaksi diambil dari beberapa narasumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here